08 April 2016

Berharap Generasi Emas dari Lingkaran Setan

“Ah sialan, ganggu orang tidur aja, telepon tengah malam  segala ” kuraih bantal untuk menyumbat telingga berharap bisa memlanjutkan tidur, namun tak berselang lama telepon diatas meja pojok kamar kembali berdering hingga berulang kali sumbatan bantal dilubang telinga tak banyak membantu.
“Halo Thomas sorry gue ganggu tidurmu, gue lagi begadang nih gimana jadi gue garap proyekmu?” suara disebrang sana langsung to the point without small talk, aku yang masih diselimuti rasa kantuk dan marah gak mau juga berlama-lama dialog “ok deal, tomorrow I’ll go to your home” sebelum terdengar jawaban aku langsung tekan tombol off dan menaruh gagang telepon.
Suara kelakson khas tukang sayur terdengar nyaring di gang depan tak lama suara ibu-ibu terdengar mengerubutinya belanja berbagai sayuran ini artinya sudah pagi sekitar jam 07.00, aku memaksakan bangun membuka jendela mentari pagi pun langsung menyilaukan mata yang baru terbuka ini, ibu-ibu sedang asik memilah-milih sayur dan lauk persis di gang depan kosanku anak berduyun-duyun pergi sekolah, dari arah sebrang terlihat Tegar dengan motor ninjanya melaju santai menuju kosanku. “Loe ngapain kesini kan gue udah bilang gue mau kerumah loe” kekesalan pada Tegar tidak bisa disembunyikan dari wajahku ketika dia datang langsung aku semprot  “I’m so sorry brother my time is limit so gue sekalian mampir sekarang , last night you said deal ok harga dari gue 6 juta gue kasih discount dikit lah buat loe my best friend” harga yang cukup mahal dia lontarkan tanpa melihat kondisiku “hey brotheh jangan terlalu mahal!, do you know gue hanya mahasiswa desa yang nyambi part time di perusahaan software kecil-kecilan?” aku sedikit memelas berharap Tegar bisa memahami “ok bro take it easy, kara loe best friend gue kasih 4 juta fixed tanpa discount lagi, ok I’m leaving banyak client gue nunggu di tempat biasa, thanks for your trust” tegar keluar dari pintu kosanku kembali menunggani ninja merahnya memang kebiasaannya seperti jelangkung come and leave secara tiba-tiba.
Selesai mandi dan sarapan aku berangkat ngampus menumpang angkot biru no 06 yang masih sepi penumpang, “Selamat pagi nak Thomas bagai mana kuliahnya? Pak Darno sopir angkot yang sudah menjadi langgananku selama 5,5 tahun kuliah menyapa ramah “Insya Allah pak akhir tahun ini wisuda, doakan aja ya pak!” common answer yang selalu kugunakan pada setiap interviewer. Angkot pak Darno berhenti pas di depan gerbang kampusku yang hanya berjarak 10 menit dari kosan, aku pun langsung turun untuk bertempur dengan dosen pembimbing, air mancur megah menyambut didepan gerbang sebagai icon kebanggaan kampus negeri termegah di ibu kota provinsi ini.
“Hey Sinta ada apa? kenapa kamu menangis?” aku spontan memanggil dan mengejar Sinta teman seangkatanku yang kukenal pada saat KKN 2 tahun lalu. “Skripsiku dicoret merah semua Thomas dari bab 1 sampai bab 5 jadi harus ganti judul, gue sudah malas mengurusnya lagi” Sinta menangis sambil memegang gumpalan kertas penuh goresan merah “kenapa Sin harus ganti judul segala, ini keterlaluan?” aku bertanya sok respect  “Iya Thomas I don’t know  kalau dosen pengujiku bu Tiara tidak suka disuap pake parsel tapi kita harus teransfer uang tunai” sinta menjelaskan tanpa basa-basi, akupun memberikan nomor Tegar agar Sinta’s project  will have finished soon.
Aku menuju ruangan Pak Rektor yang kebetulan beliau adalah dosen pembimbingku, ruangannya megah,  dilengkapi computer canggih,  dan meja kaca bening setebal 6 cm. Di atas meja berjejer belasan parsel yang tertempel nama dan nomor induk mahasiswa, dipojok sebrang meja menumpuk kertas skripsi didiasi red line yang berbaris seperti macetnya Jakarta.
“Selamat pagi Pak, saya Thomas mahasiswa pisikologi bimbingan Bapak, saya mau mengajukan judul skripsi “ aku menyerahkan kartu hijau yang sudah tertulis judul  “Analisa Daya Tahan Jomblo terhadap Gaya Tikung Lawan Pada Gebeten Setarget”. Pak Rektor melihat kartu hijauku dan berpikir sejenak kemudian melepas kaca matanya dan berkata “ok Thomas, your title is good I give you time three months are you ready?” dadaku serasa plong setelah judulku disetujui “ok Sir I’m ready, I will have finished my thesis three month latter, Thank you very much” aku pun salaman sebelum meninggalkan ruangan megah ini, kode rahasia menempel di tanganku ketika salaman berupa kertas kecil bertuliskan merah. Aku melanjutkan ekspansi to other room for meet someone yang dosen keduaku yang tadi membuat Sinta menangis ‘yes the killer lecturer’, aku menemuinya dengan bekal keberanian karena dosen pertamaku adalah pek rektor sehingga dosen kedua tak mungkin menolak judulku, dan benar saja hanya dua menit aku diruangannya tanpa banyak basa-basi aku keluar membawa kertas bertuliskan 25 digit nomor yang diawali dengan 66400xxxxxxxxxx. Selesai sudah misiku hari ini ada waktu istirahat siang sebagai amunisi kerja lembur diperusahaan software untuk mensupport kebutuhan kuliahku.
Seminggu berlalu tegar mendatangi kosanku disore hari “Hi Thomas, it’s your thesis I have done it” dia menyerahkan buntalan kertas yang dijepit rapi setebal 150 halaman dengan cover bertuliskan “Analisa Daya Tahan Jomblo terhadap Gaya Tikung Lawan Pada Gebeten Setarget”. Ya inilah skripsiku yang aku pesan dari Tegar selesai sudah sampai bab akhir penutup kesimpulan dan saran. Tegar memang ahlinya membuat dan menjual skripsi sampai sekarang telah ratusan mahasiswa yang menggunakan jasanya dari berbagai kampus besar di negeri ini sehingga kondisi ekonominya maju mampu membeli motor ninja dan kredit rumah walaupun kuliahnya hanya sampai semester 4 dan di drop out karena kekurangan biaya, “wow so fast you could finished it I like your job” aku mengapresiasi kerja cepatnya dan Tegar hanya tersenyum puas pastinya dia juga senang karena dia teman baikku “Don’t worry  Thomas skripsimu ini dijamin lulus gue udah mengatur segalanya termasuk ke Pak Rektormu dan ibu killer itu” Tegar berkata mantap, akupun menyerahkan amplop coklat sebagai pembayaran yang aku cicil selama empat bulan aku harus pandai memangkas uang kiriman dari kampung dan gaji kerjaku untuk membayar proyek ini pada Tegar.
Waktu berlalu dengan cepat deadline pengerjaan skripsiku telah tiba yang bebenarnya skripsiku sudah selesai pada minggu pertama, aku bersiap bertempur lagi di istana megah bermeja kaca panjang. Kring-kring hp dijmejaku berbunyi terlihat icon what up menyala dan nama presiden utama kampus terlihat di display segera kuambil hp untuk read massage “dear Thomas, today I waiting for you at 08.00 am in my room, don’t forget my order” langsung saja kurespon “ok Sir, I understood everything is ready”.
Ya hari inilah aku sidang mempertaruhkan memprsentasikan karya ilmiah produksi Tegar, semoga setingan yang dirancang berjalan mulus tampa ada tikus yang mengganggu, parsel setinggi 90cm lebar 40 cm berbentul segitiga yang dipesankan oleh perusahaan tempatku bekerja dengan memakai gajihku satu bulan telah berdiri kokoh disamping pintu kosanku diantar toko penjual pagi-pagi sekali. Aku pun bersiap-siap menyemir sepatu, memakai baju putih celana hitam berjas dan dasi hitam yang aku sewa di tempat rias pengantin depan gang sebelah yang mungkin tahun depan aku sewa lagi untuk pernikahanku.
Aku menenteng parsel raksana kedepan jalan raya sembari menunggu angkot 06, selang 5 menit angkot Pak Darno langgananku merapat anggun dihadapanku Pak Darno turun dan mengambil parselku disimpannya diatas angkot biar tidak rusak “nak Thomas kok bawa parsel besar sekali, ada acara apa?” Tanya Pak Darno yang entah benaran tidak tahu atau pura-pura polos guna menjaga perasaanku. “iya ni Pak, kebetulan ada acara ulang tahun fakultas yang diisi dengan lomba merakit parsel” alasan konyol dan gak masuk akal aku lontarkan.
Sidang akhir dimasa kuliahku telah usai akhirnya penantian panjang setelah 5,8 tahun berjuang dikampus ini menemui endingnya, persidangan berjalan mulus tanpa banyak dibantai dosen penguji dan dosen pembimbing semua rencana yang disusun Tegar kepada Pak Rektor berjalan lancar, parsel raksasa berdiri kokoh paling tinggi sendiri diantara parsel lainya yang ada diruang sidang seperti halnya Twin Tower yang sudah single di Malaysia, parsel raksasa di ruang sidang ini hanya transit before arrived at the rector’s house. Bu tiara juga tidak banyak komentar setelah semalam aku kirim screen shoot dengan sedikit keterangan yang aku tulis “Madam Tiara, I have sent some money to your rekening suitable with your request”.

Akupun keluar ruang sidang dengan tubuh lelah, senag, dan bingung selama naik angkot diperjalanan aku merenunkan sebuah konsfirasi lingkaran setan. Dilingkaran setan inilah sebuah konfirasi yang terus terulang dari tahun-ketahun telah memakan korban ribuan bahkan jutaan mahasiswa, konfirasi ini sudah aku rasakan semenjak duduk di bangku sekolahan beberapa tahun silam, dimana pencontekan terorganisir pada saat ujian Negara terjadi disetiap sekolah di negeri ini. Jikalau negeri ini melahirkan banyak koruptor, melahirkan banyak mafia, mencetak banyak antek, memalsukan kenyataan, mendustakan sejarah. Maka jangan heran itulah hasil dari lingkaran setan yang tak akan melahirkan generasi emas.

No comments:

Post a Comment